Hidayatullah.com—Jepang telah menyetujui relokasi sebuah pangkalan udara militer Amerika Serikat yang sekarang terletak di sebelah selatan Pulau Okinawa.
Gubernur setempat Hirokazu Nakaima setuju untuk melakukan pengurukan tanah guna membangun pangkalan udara baru di bagian utara pulau yang berpenduduk jarang.
Kesepakatan tersebut merupakan terobosan besar setelah mengalami kebuntuan selama bertahun-tahun.
Amerika Serikat menempatkan sekitar 26.000 personel militernya di Pulau Okinawa dalam kerjasama keamanan jangka panjang.
Namun, keberadaan pangkalan-pangkalan militer AS di pulau itu mendapat kecaman dari warga setempat dan tekanan mereka atas fasilitas militer tersebut semakin meningkat. Mereka ingin agar jejak militer AS di pulau itu dikurangi.
Tahun 1945 diperkirakan 100.000 warga sipil Okinawa tewas dalam Pertempuran Okinawa untuk mempertahankan pulau tersebut, namun Jepang menyerah dan Amerika Serikat mengambil alih kekuasaan atas Okinawa. Pada tahun 1972 Okinawa dikembalikan ke Jepang, tetapi pangkalan-pangkalan militer AS tetap bercokol hingga saat ini.
Tahun 1996 Jepang dan AS setuju untuk menutup pangkalan udara Futenma. Setelah perundingan selama bertahun-tahun berdasarkan kesepakatan terbaru, pangkalan udara AS itu akan direlokasi ke tempat baru dekat Nago, daerah yang lebih jarang penduduknya di bagian utara pulau. Namun, pemerintah setempat menentang pendirian bangunan baru untuk pangkalan di bagian utara pulau di daerah pesisir.
Sejumlah pengkritik menuntut agar pangkalan udara AS dienyahkan sepenuhnya dari wilayah Prefektur Okinawa.
“Apa yang telah dilakukan gubernur tersebut tidak dapat dimaafkan,” kata Yuichi Higa pimpinan parlemen di Nago, tempat pangkalan baru AS akan dibangun, sebagaimana dikutip BBC dari Associated Press (27/12/2013).
“Warga yang menentang pasti akan mengambil cara-cara keras seperti memblokir jalan untuk menghentikan ini terjadi,” kata Higa.
Keputusan relokasi pangkalan udara Futenma bagi Nakaima sulit secara politis. Pasalnya, dia terpilih menjadi gubernur pada 2010 karena menentang keberadaan pangakalan udara AS di Okinawa.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe hari Rabu (25/12/2013) menekan Nakaima agar menyetujui relokasi Futenma. Abe menjanjikan paket stimulus ekonomi untuk Okinawa setiap tahun sampai 2021.*