Hidayatullah.com—Angkatan Darat Sudan berhasil mematahkan pemberontakan oleh sekelompok bekas anggota pasukan elit yang loyal kepada mantan presiden Omar al-Bashir.
Baku tembak terjadi hari Selasa (14/1/2020) di ibu kota Khartoum dan bandara di kota itu ditutup sementara saat dar-der-dor terjadi.
Kekerasan itu dipicu oleh pertikaian soal gaji aparat dinas rahasia yang ditakuti di negeri itu, yang saat ini sedang dirombak untuk diperbaiki, kata pemerintah.
Dua prajurit dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka dalam baku tembak itu, yang terburuk sejak Bashir dilengserkan pada bulan April 2020.
Sejak Agustus tahun lalu, Sudan diperintah oleh sebuah dewan bersama yang terdiri dari sipil dan militer.
Seorang anggota senior Dewan Kedaulatan, Jenderal Mohammed Hamdam Dagalo (dikenal dengan sebutan Hemeti) menuding bekas kepada dinas intelijen Jenderal Salah Gosh sebagai otak pembangkangan tersebut, lansir BBC.
Keberadaan Gosh saat ini tidak jelas, dengan spekulasi dia melarikan diri ke luar negeri setelah Bashir digulingkan.
Jenderal Dagalo mengatakan bahwa meskipun dirinya tidak menganggap kekerasan itu sebuah upaya kudeta, tetapi aksi tersebut tidak dapat ditoleransi.
Dalam pidatonya hari Rabu (15/1/2020) pimpinan Dewan Kedaulatan Letjen Abdel Fattah Burhan mengatakan bahwa kekerasan itu sudah berakhir.
Jubir pemerintah Faisal Mohamed Saleh mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah bahwa peristiwa itu terjadi karena pasukan tersebut menolak jumlah uang yang mereka dapat dari pensiun.
General Intelligence Service (GIS), dulu dikenal dengan nama National Intelligence and Security Service (NISS), berperan besar dalam upaya pembubaran aksi-aksi demonstrasi anti-pemerintah di masa-masa akhir kepemimpinan Bashir. Sedikitnya 170 orang pengunjuk rasa terbunuh dalam rentetan demonstrasi yang berlangsung selama berbulan-bulan akibat tindakan keras aparat.
Selama 30 tahun kekuasaan Bashir, GIS merupakan dinas keamanan paling kuat di Sudan dan paling ditakuti.*