Hidayatullah.com–Presiden Recep Tayyip Erdogan, menekankan bahwa tentara Turki tidak akan meninggalkan Suriah, sampai warga di negeri yang sedang bergolak itu memiliki kesempatan untuk mengadakan pemilihan umum (Pemilu).
“Kapanpun rakyat Suriah mengadakan pemilu, kami akan meninggalkan Suriah untuk pemiliknya,” kata Erdogan di forum TRT World di Istanbul, kemarin, yang dilansir Aljazeera, Jumat (5/10/2018).
Sebelumnya, Turki mengirim pasukan pada Agustus 2016 untuk membebaskan daerah perbatasan dari kontrol Daesh.
Baca: Parlemen Turki Ratifikasi Mosi Pengiriman Tentara ke Iraq dan Suriah
Pasukan Turki meluncurkan operasi di wilayah Afrin, Suriah utara untuk memerangi pasukan Kurdi yang berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang dimasukkan dalam kelompok teroris.
Erdogan setuju dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membentuk zona demiliterisasi antara pasukan pembebasan dan pasukan rezim Suriah di Suriah utara.
Zona yang membantang antara 15 hingga 20 km itu diberlakukan mulai 15 Oktober 2018. Kendali keamanan zona itu akan dijamin oleh patroli militer Rusia dan Turki.
Baca: Turki Tambah Pasukan, Mengirim Tank ke Perbatasan Suriah
Erdogan menambahkan bahwa Ankara tidak menemui kesulitan dalam melakukan pembicaraan dengan berbagai faksi pembebasan di provinsi Idlib di Suriah utara. Idlib merupakan benteng pertahanan terakhir yang dikuasai kelompok oposisi.
Hay’at Tahrir al-Syam, yang termasuk milisi yang sebelumnya dikenal sebagai Front al Nusrah, diyakini sebagai kelompok bersenjata paling kuat di Idlib.
Menurut Erdogan, Turki memantau Idlib dari 12 titik pengamatan. Sedangkan Rusia memiliki 10 titik pengamatan dan Iran memiliki enam titik.
“Mengamankan koridor ini berarti mengamankan Idlib,” katanya. “Dan kami telah mulai membentengi pos pengamatan kami.”
Bulan lalu, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin mencapai kesepakatan untuk menciptakan zona bebas militer antara milisi pembebasan dan milisi pemerintah di Suriah utara, tulis Reuters.*