Hidayatullah.com– Jelang digelarnya Aksi Bela Islam II atau Aksi Bela Qur’an di Jakarta, besok lusa, Jumat (04/11/2016), muncul sejumlah kabar kurang baik.
Pertama, dikabarkan sempat terjadi pemblokiran beberapa media-media Islam online baru-baru ini. Pemblokiran diduga terkait aksi tersebut.
Kedua, dikabarkan terjadi penghambatan pergerakan massa dari beberapa daerah yang akan bergerak menuju Jakarta.
Terkait itu, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir angkat bicara. GNPF MUI merupakan panitia yang mengkoordinasi aksi itu.
Bachtiar mengatakan, jika media-media yang dikabarkan diblokir itu menyuarakan hak-hak Islam dan tidak mengandung unsur SARA, pemblokiran itu jangan sampai gegabah.
“(Jika memang demikian) saya kira Menkominfo tidak boleh segegabah itu ya. Dan kita akan coba telusuri nanti, ya kita akan datangi (Menkominfo),” ujarnya kepada hidayatullah.com dan wartawan lain di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (01/11/2016) malam.
Bachtiar mengatakan, jika memang terjadi pemblokiran media dan itu terkait Aksi Bela Islam II, justru akan menimbulkan kontraproduktif terhadap pemblokir.
Dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang punya wewenang pemblokiran website.
“Saya kira tidak segegabah itu ya, karena (aksi) ini sudah membola es. Jadi kalau ada sikap-sikap terlalu gegabah, terlalu ekstrem terhadap media-media, apalagi media Islam, ini bisa menjadi kontraproduktiflah bagi Menkominfo,” tambahnya.
Pada Maret 2015 lalu, Kemenkominfo memblokir 22 situs media Islam yang kemudian sudah dibuka kembali blokirnya.
Kementerian Komunikasi dan Informasi Akui Blokir Media Islam Tanpa Komunikasi dan Verifikasi
Kabar Penghambatan Massa
Terkait beredarnya kabar upaya penghambatan massa di daerah untuk datang ke Jakarta, Bachtiar menyatakan baru mendengar informasi itu dari wartawan.
“Kita dari panitia malah belum dengar (secara) langsung. Kalau memang benar ada, kita akan coba telusuri dan kami akan telepon Kapolri (Tito Karnavian). Karena sudah ada deal antara kita dengan Kapolri bahwa massa jangan dihalangi untuk masuk Jakarta,” tegasnya.
Kabar-kabar tersebut berseliweran antara lain di salah satu grup WhatsApp jurnalis. Rabu (02/11/2016) siang, misalnya, masuk sebuah pesan berantai yang berbunyi:
“Orang Bandung kesulitan cari bis menuju Jakarta, menurut org travel ada upaya sistematis “nyingsieunan” pengusaha bis utk tidak datang ke jakarta. Dari timur juga ada indikasi dipersulit, nanti mlm rcn tmn2 dari Smrg mau ke Jkt dulu mdh2an nggak ada masalah. Kemarin ada info bgm keluar dari Smrg mau ke Jkt spt ini:
Bismillah….akhi, mohon di sampaikan ke sohib, bila brkt ke jkt upayakan utk tdk carter bus atau travel krn di tiap perbatasan kota mulai Kendal sd Brebes akan disweeping… bila di temukan romb yg diduga akan ikut demo 4 Nop maka akan diminta balik … sdh dilakukan upaya2 dg meminta PO bus dan travel utk tdk menerima jasa carter … bila ditemukan ijinya akan dipertimbangkan utk dicabut.. barakallahu fiikum…
Disarankan utk menyebar naik angkutan umum… bila carter bus, dipastikan PO nya mungkin tdk berani….”
Puluhan Tokoh Nasionalis dan Islamis Satukan Barisan Jelang Aksi 4 November
Beredar pula kabar upaya penghambatan massa dari Jawa Timur. Namun, berbagai kabar tersebut belum dipastikan kebenarannya.
Sebelumnya, GNPF MUI mengimbau kepada massa dari luar Jakarta agar tiba lebih dini di Jakarta. Kalau perlu, pada Jumat nanti massa sudah menunaikan shalat shubuhnya di Masjid Istiqlal atau masjid-masjid sekitarnya.* Ali Muhtadin, SKR