Hidayatullah.com—Pemerintah baru Uruguay mengatakan bahwa negaranya tidak akan lagi memberikan suaka kepada para tahanan yang dibebaskan dari penjara Amerika Serikat di Guatanamo, lapor BBC Selasa (24/3/2015).
Pada Desember 2014, Uruguay bersedia menampung 6 pria Arab yang sebelumnya dikurung dalam penjara Guantanamo selama 12 tahun. Mereka adalah Abu Wael Dhiab, Ali Husain Shaaban, Ahmed Adnan Ajuri, and Abdelhadi Faraj dari Suriah; Mohammed Abdullah Taha Mattan dari Palestina, dan Adel bin Muhammad El Ouerghi dari Tunisia.
Presiden Jose Mujica, yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, mengatakan keenam orang itu telah menjadi korban dari penculikan “yang sangat kejam”, karena ditangkap dan dikurung 12 tahun dengan tuduhan sebagai anggota Al-Qaidah tanpa bukti, serta tidak pernah diajukan kasusnya ke pengadilan.
Namun, jajak pendapat terbaru menunjukkan rakyat Uruguay menolak kebijakan yang diambil oleh Mujica itu.
Usai mengunjungi keenam orang bekas tahanan Guantanamo itu pada bulan Februari lalu, Mujica mengatakan bahwa keenam pria Arab itu belum dapat beradaptasi dengan kehidupan di negara Amerika Selatan itu.
“Mereka jelas sekali sangat kesulitan dengan bahasa [Spanyol],” kata presiden Uruguay yang merupakan mantan gerilyawan dan pernah dijebloskan penjara oleh rezim militer.
Mujica mengatakan pemberian suaka kepada keenam orang asing itu dilakukan atas dasar kemanusiaan.
Menteri luar negeri Uruguay yang baru, Nin Novoa, tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai perubahan kebijakan pemerintah baru Uruguay soal bekas tahanan Guantanamo itu.*