Hidayatullah.com–Moroko telah mulai memasangkan energi yang dapat diperbarui pada 600 masjidnya, menggantinya dengan lampu hemat LED, listrik fotovoltaik, dan pemanas air solar.
Rencana awalnya akan selesai pada awal 2019, disusul dengan pemasangan pada sisa masjid yang terdaftar di negara itu — jumlah keseluruhannya 15.000.
Tujuan proyek itu ialah untuk menggunakan masjid sebagai titik awal dalam meningkatkan kesadaran energi bersih dan contoh penggunaan energi yang dapat diperbarui di antara fasilitas-fasilitas publik.
Masalah perilaku
“Masjid bukanlah pengguna listrik yang besar: masih ada lampu-lampu, pemanas air. Yang kami ingin lakukan ialah memberi informasi pada orang-orang,” Said Mouline, direktur Badan Nasional Pengembangan Energi Ramah Lingkungan dan Efisiensi, mengatakan pada CNN, Jumat (18/11/2016).
“Efisiensi energi bukan hanya masalah teknologi, itu juga masalah perilaku.”
Mouline berharap bahwa dengan bantuan imam dan ulama di masjid-masjid, orang-orang akan menerapkan apa yang mereka pelajari untuk mengurangi tagihan energi listrik mereka di rumah.
“Masalah utama dalam energi ramah lingkungan ialah investasi awal, dan hanya orang-orang kaya yang dapat memenuhi hal itu. Untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membiayai penggantian ini, kami menawarkan 10 juta lampu hemat energi pada keluarga-keluarga dan hanya membebankan biaya pemasangan melalui tagihan listrik, yang juga akan berkurang karena lampu-lampu yang digunakan lebih hemat energi.”
Kerjasama dengan Jerman
Rencana itu digagas pada 2014 dengan kerjasama antara institusi Moroko dan GIZ, sebuah perusahaan Jerman yang berfokus dalam pengembangan internasional.
Anggaran fase awal ini berjumlah 5 juta euro (sekitar 5,4 juta dollar), dengan institusi penyedia layanan Moroko yang menanggung biaya pemasangan dan nantinya menerima keuntungan dari penghematan yang dapat dicapai. GIZ memperkirakan bahwa kontrak awal tersebut akan menciptakan 130 lapangan kerja, dengan potensi yang semakin besar seandainya program tersebut diperluas.
Yang berarti mitra Jerman hanya menyediakan dukungan teknologi, daripada kesempatan investasi bagi perusahaan-perusahaan non-Moroko.
Semua bangunan pemerintah
“Pada 2011, Moroko mengembangkan integrasi berkelanjutan dalam konstitusinya, berisi tiga pilar: perlindungan lingkungan, kebijakan ekonomi, dan mempertimbangkan perubahan iklim sebagai sebuah ancaman struktural bagi Moroko,” Hakima El Haité, Menteri Energi, Pertambangan, Air dan Lingkungan Moroko mengatakan pada CNN.
Salah satu target pemerintah ialah agar semua bangunan negara menggunakan energi ramah lingkungan pada 2030.
“Masjid ‘ramah lingkungan’ merupakan contoh sempurna apa yang kami sedang lakukan dengan semua institusi. Kami memulai dengan masjid karena, seperti gereja atau institusi keagamaan lainnya, mereka dapat memainkan peran yang sangat penting dalam hal edukasi.”
Moroko telah berusaha keras menerapkan perkembangan berkejanjutan sejak diubahnya konstitusi negara itu, dan saat ini dianggap sebagai percontohan dalam melawan perubahan iklim.
El Haité percaya bahwa agama, juga, dapat menawarkan cara baru untuk menyampaikan maksud dari pemerintah itu.
“Di dunia, 85 persen orang-orang menyatakan memiliki agama, yang berarti bahwa 85 persen dari populasi dunia mempunyai kesempatan untuk mendengar tentang perubahan global ketika mendatangi tempat ibadah, memberi kami sebuah alat yang dalam memberikan kesadaran akan perubahan iklim.” */Nashirul Haq AR