Hidayatullah.com—Pemerintah Jerman, hari Selasa (2/10/2018) memutuskan untuk memperpanjang misi non tempur militernya di Iraq satu tahun.
Parlemen awalnya memperpanjang mandat kepada militer agar mereka dapat melatih pasukan Kurdi Peshmerga dan pasukan khusus dari angkatan bersenjata Iraq.
Keputusan hari Selasa itu juga mengakhiri misi pengintaian dan pengisian bahan bakar pesawat di udara yang dilakukan Jerman sebagai bagian dari misi tentara internasional pimpinan Amerika Serikat melawan ISIS alias IS (Islamic State) di Iraq dan Suriah. Misi tersebut akan diakhiri pada 31 Oktober 2019. Tidak dijelaskan apa alasannya.
“Dalam rangka mempertahankan keberhasilan pertempuran melawan IS dan guna mencegah organisasi teroris mengumpulkan kembali kekuatannya, upaya tekanan terhadap organisasi-organisasi teroris dengan cara-cara militer masih diperlukan,” kata keputusan kabinet itu seperti dilansir DW.
Bulan lalu, saat kunjungan ke pangkalan udara Azraq di Yordania, di mana pesawat-pesawat pengintai dan pengisi bahan bakar milik Jerman diparkir, Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen mengatakan dirinya belum dapat memastikan pengerahan jangka panjang militer negaranya di Timur Tengah.
Saat ini jumlah personel militer Jerman yang ditempatkan di pangkalan di Yordania dibatasi hanya 800 saja. Jumlah itu tidak akan berubah.
Sejarah Nazi yang mencoreng citra Jerman menjadikan tindakan militer isu yang sensitif di negara itu. Pemerintah Jerman sejak Perang Dunia II berakhir sebisa mungkin membatasi keterlibatan militernya di luar negeri. Meskipun demikian, pada tahun 1999 Jerman ikut mengerahkan pasukan untuk melakukan serangan udara bersama NATO terhadap wilayah pecahan Yugoslavia yang dilanda perang antaretnis. Sementara di Afghanistan, militer Jerman baru turun tangan sebagai pasukan penjaga perdamaian setelah Taliban ditumbangkan dari kursi pemerintahan.*