Hidayatullah.com– Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, sebenarnya banyak kasus yang memancing orang untuk bicara terkait suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).
Misalnya kasus video pernyataan yang menyinggung al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51.
Dipahami bersama, yang dimaksud adalah pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu (27/09/2016). [Baca: Ahok Dikecam Bilang “Jangan Percaya Dibohongi Pakai Surat Al-Maidah”]
Wapres pun mengingatkan semua pihak agar menghindari masalah SARA dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
“Kita ingin menghindari SARA walaupun dimana-mana juga sering timbul. Tapi harus dipahami juga ini demokrasi, orang memilih sesuai apa yang dia suka,” ujar Wapres di Jakarta, Jumat (21/10/2016) dikutip Antara.
Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Ahok, kepada warga Kepulauan Seribu saat itu mengatakan, “Jadi, jangan percaya sama orang, bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya. …Dibohongi pakai Surat Al-Maidah (ayat) 51 macem-macem itu. Itu hak bapak-ibu ya!”
Terkait kasus pernyataan Ahok itu, menurut Wapres, bukan ayat yang menjadi persoalan, tapi ada kata-kata yang menjadi persoalan yaitu kata-kata bohong.
“Coba lihat kata-kata di video itu, kata mana orang yang tidak suka, bukan ayat yang dipersoalkan, yang dipersoalkan kata bohong. Jadi jangan memakai itu sebagai SARA, jangan juga menjadi kata yang menyebabkan orang marah,” ujarnya.
Diingatkan Jangan Asal Bicara
Wapres mengingatkan, semua pihak harus menjaga agar tidak membawa-bawa masalah SARA, juga jangan asal bicara dan asal menuduh. Wapres berpendapat bahwa hal ini bukan terkait dengan agama tapi masalah etika.
Dia mencontohkan calon Presiden AS dari Partai Republik Donald Trump yang pendukungnya menurun karena berbicara macam-macam.
Amerika, ujar Wapres, yang merupakan negara biang demokrasi juga terjadi masalah SARA.
“Di Amerika butuh 240 tahun baru orang hitam bisa jadi presiden, butuh 175 tahun di Amerika baru orang Katolik jadi presiden. Jadi soal agama itu bukan soal pilihan, jangan mengatakan kalau tidak pilih mayoritas itu tidak Pancasilais. Ini demokrasi tapi jangan bentrokkan, jangan hina satu sama lain,” ujar Wapres.
Wapres juga mengingatkan bahwa kedua pihak, baik mayoritas maupun minoritas, harus toleran supaya tercipta kehidupan beragama yang harmonis. [Baca juga: Ketua Umum PBNU Minta Ahok Jaga Etika dan Bicara]*