Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Menjaga Agar “Azan” Tetap Berkumandang di Lereng Merapi

Ahmad
Terakhir diupdate: 28 Januari 2023 00:15 12:15 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 November 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Ketika semua orang menyerahkan tenaga membantu pengungsi, ia memilih menghidupkan masjid, menjaga agar azan tetap berkumandang dan sholat berjamaah tetap didirikan

Hidayatullah.com | JUNDI (18) nampak sibuk mengurusi pengungsi Merapi. Beberapa hari ini, ia sejenak melupakan kegiatan sekolahnya dan ikut sibuk menjadi tim kemanusiaan membantu para pengungsi.

Jundi adalah santri SMA Hidayatullah Yogyakarta yang memilih bergabung dengan relawan Hidayatullah Peduli untuk musibah Gunung Merapi. Masjid Markazul Islam menjadi posko relawan setelah warga pesantren diharuskan ikutan mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ketika Merapi meletus dahsyat pada Kamis (4/11/2010) tengah malam sampai Jumat (5/11/2010) dinihari, Jundi termasuk santri yang ikut membantu mengungsikan 150-an warga Pesantren yang berada pinggir sungai Boyong di Dusun Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.

Jarak udara pesantren ini dari titik puncak Merapi adalah 17 km. Hari Jumat, Badan Geologi menetapkan kawasan rawan bencana diperluas menjadi 20 kilometer dari puncak Merapi.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

“Prioritas pengungsian pertama adalah bayi dan ibu-ibu. Ada 10 balita, 6 ibu, dan 7 anak usia SD yang diungsikan dengan 2 mobil milik pengurus pesantren yang sudah standby sejak Merapi meningkat aktivitasnya dan statusnya dinyatakan dalam kondisi Awas Merapi,” kata Jundi.

Berikutnya, sekitar 100 santri yang selama ini tinggal di asrama pesantren diangkut para pengasuh dengan transprtasi truk milik Basuki Jaya, seorang dermawan yang kerap membantu pondok pesantren.

Menolong agama Allah

Jundi dan para santri lainnya sejatinya adalah pengungsi dan korban Merapi. Meski kegiatan belajar-mengajar diliburkan sesuai arahan pemerintah, dia dan beberapa teman kelasnya telah memilih menjadi relawan.

“Bismillah. Meskipun mengungsi tapi kami sungguh tak ingin menjadi pengungsi. Kami ingin menjadi subyek, bukan obyek. Kami ingin jadi penolong. Kami ingin menjadi solusi dan bukan problem,” ujarnya kepada hidayatullah.com hari itu.

”Intansurullaha yansurkum (siapa yang menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kamu),” tegas Jundi kepada hidayatullah.com.

“Apalagi beredar info, banyak penjahat akidah yang berseliweran mencari mangsa,” tambah santri asal Cimais, Jawa Barat ini.

Hingga kini, situasi mencekam saat pengungsian warga pesantren masih terasa. Suara aliran Kali Boyong, yang berapa tepat di belakang Pondok Pesantren Hidayatullah telah mengalirkan lahar dingin dari puncak Merapi, berpadu dengan suara gemuruh gerakan magma dari dalam bumi.

Apalagi sejak sore, hujan air (berikutnya berubah menjadi hujan lumpur campur kerikil) dan gelegar guntur tak henti-hentinya berbunti di wilayah itu.

Sampai hari ini, jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Merapi terus meningkat. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jumlah pengungsi Merapi sudah mencapai 283.000 orang di seluruh provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa (D.I) Yogyakarta. Pernyataan Presiden Yudhoyono disampaikan saat mengunjungi salah satu pusat penampungan pengungsi di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta,  Ahad (07/11/2010), yang saat ini menampung sekitar 30.000 pengungsi.

Saat Presiden Yudhoyono berkunjung ke stadion yang jaraknya 25 kilometer dari puncak Gunung Merapi, gunung itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Asap hitam masih terlihat membubung ke udara.

Bunyi gemuruh dari perut gunung juga terdengar beberapa kali dalam sehari. Bila kondisi ini terus berlangsung, ada kemungkinan 283 ribu pengungsi di Jawa Tengah dan Yogyakarta akan bertahan di pusat-pusat pengungsian hingga beberapa pekan ke depan.

Sementara itu, perjalanan menuju tempat pengungisan juga tidak mudah karena ruwetnya lalu-lintas pengungsi dan jarak pandang yang sangat terbatas akibat pengaruh hujan lumpur.

Tak terhitung berapa kecelakan lalu lintas yang terjadi. “Penyeka kaca mobil menjadi tidak berfungsi. Kami harus berhenti setiap limapuluhan meter untuk mengelap kaca,” ujar Abu Abdurrahman, pengurus pesantren yang kebagian jatah mengangkut pengungsi balita dan ibu.

Akibat terbatasnya jarak pandang ini, balita dan para ibu terpaksa diungsikan ke gudang kertas milik Percetakan Mucommindo Jaya Cemerlang, di Desa Karangjati (radius 30 KM) dari puncak Gunung Merapi. Sementara para santri yang berusia SMP-SMA diungsikan ke kantor sekretariat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Yogyakarta di Tegalmojo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman (radius 28 km).

Alhamdulillah, kedua tempat ini berdampingan dengan masjid dan mushola sehingga beberapa keperluan MCK termudahkan. Meski belakangan beberapa santri SMP dijemput orang tuanya untuk pulang ke daerah masing-masing,  mayoritas santri SMA dan santri dewasa memilih bergabung dengan tim relawan kemanusiaan.

Menjaga azan berkumandang

Di antaranya santri bergabung dengan Tim Hidayatullah Peduli. Tim ini sudah terjun sejak pertama erupsi dan awan panas Merapi muncul yang telah menewaskan “legenda Merapi”,  Mbah Maridjan.

Tim Relawan Hidayatullah Peduli didukung beberapa komponen, di antaranya Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Tim Search And Rescue (SAR) dan Tim kesehatan dari Islamic Medical Service (IMS).

Saat ini, relawan Hidayatullah Peduli mengelola 7 posko; Posko Induk di jalan Monjali – Palagan Tentara Pelajar, 2 posko pengungsi warga di dekat lokasi pondok pesantren (di Karangjati dan Tegalmodjo), posko pengungsi di Stadion Maguwoharjo, posko pengungsi di Langenastran, posko pengungsi di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Selatan Keraton Yogya, dan posko SAR-BMH di titik terdekat puncak Merapi, dan Masjid Markazul Islam Donoharjo.

Beberapa relawan dari BMH dan SAR Hidayatullah dari daerah lain juga mulai berdatangan dan bergabung memberikan dukungan tenaga. Di antaranya dari BMH-SAR Solo, BMH-SAR Jawa Timur, BMH-SAR Kudus, BMH-SAR Semarang dan BMH-SAR Jakarta.

Ketika semua orang menyerahkan tenaga dan pikiran untuk membantu para pengungsi, Jundi dan beberapa temannya lebih memilih menghidupkan masjid. “Kegiatan utama kami di posko ini adalah menjaga agar azan tetap berkumandang dan sholat berjamaah tetap didirikan,” ujar Jundi di Masjid Markazul Islam Yogyakarta.

“Berikutnya, barulah tugas menjadi anggota tim evakuasi dan mengamankan aset pondok pesantren karena sudah mulai banyak terjadi penjarahan, dan pencurian di beberapa rumah yang ditinggal para mengungsi,” tambahnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:azanlereng gunung merapipengungsi MerapiPondok Pesantren Hidayatullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mesir Tetapkan Idul Adha 16 November
Tulisan selanjutnya 150 Ribu Anak Jadi Korban Eksploitasi Seks

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?